Berita Kegiatan

Tim Peneliti STIE Ganesha Gali Strategi Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal di Pasaman Barat

PASAMAN BARAT –Tim peneliti akademisi dari STIE Ganesha berhasil menyelenggarakan kegiatan lapangan dalam rangka Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) Kemdikbudristek RI Tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 8 hingga 14 Agustus 2025 ini mengusung judul “Model Tata Kelola Manajemen Sawit Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Kabupaten Pasaman Barat”.

Penelitian ini diketuai oleh Dr. Halim Tjiwidjaja, S.T., M.M., dengan anggota peneliti Aep Saefullah, S.HI., M.M., dan Alifi Restu Putera.

Tim peneliti melakukan pengumpulan data mendalam melalui kuesioner terhadap 20 responden, yang terdiri dari petani sawit swadaya dan plasma, pengurus koperasi, serta tokoh masyarakat. Tujuannya adalah untuk memahami implementasi praktik pengelolaan yang baik (Good Management Practices/GMP) dan mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diintegrasikan untuk menciptakan tata kelola sawit yang berkelanjutan.

Temuan Utama (What):

Berdasarkan data kuesioner, beberapa temuan kunci terungkap:

  • Tingkat Pengetahuan GMP Rendah: Sebagian besar responden (60%) mengaku tidak pernah mendengar istilah Good Management Practices (GMP). Yang mengetahuinya pun sumber informasinya terbatas, terutama dari internet dan penyuluh.

  • Penerapan Praktik Terbatas: Penerapan prinsip-prinsip GMP seperti pengelolaan tanah, air, dan pemupukan berimbang masih sangat terbatas dan tidak merata di kalangan petani.

  • Peran Koperasi Krusial: Petani yang bergabung dalam koperasi (seperti KSU Niat Bersama) menunjukkan pemahaman dan akses yang lebih baik terhadap praktik berkelanjutan dan pemasaran, dibandingkan dengan petani swadaya.

  • Kearifan Lokal Masih Relevan: Nilai-nilai seperti gotong royong (goro) dan larangan membuka lahan dengan bakar masih dipegang teguh dan dianggap dapat disinergikan dengan prinsip GMP modern.

  • Tantangan Ekonomi dan Lingkungan: Kendala utama yang dihadapi petani adalah fluktuasi harga, ketiadaan pupuk bersubsidi, ketergantungan pada tengkulak, serta dampak lingkungan seperti penurunan kualitas air bersih dan erosi tanah.

 “Penelitian ini penting karena sawit adalah tulang punggung ekonomi banyak keluarga di Pasaman Barat. Namun, tanpa tata kelola yang baik yang menghormati kearifan lokal dan prinsip berkelanjutan, kesejahteraan jangka panjang petani dan kelestarian lingkungan bisa terancam. Kami ingin merumuskan model yang tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi benar-benar berbasis pada realitas dan kebijaksanaan yang hidup di masyarakat,” jelas Dr. Halim Tjiwidjaja, Ketua Tim Peneliti.

Data yang telah terkumpul selanjutnya akan dianalisis secara mendalam untuk merumuskan model tata kelola yang konkret. Model ini akan dirancang untuk memperkuat kapasitas petani, mendorong adopsi GMP, dan memanfaatkan kearifan lokal dalam menyelesaikan konflik dan mengelola lingkungan. Rekomendasi kebijakan berupa policy brief akan disusun dan diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman Barat serta para pemangku kepentingan terkait untuk ditindaklanjuti.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam menciptakan sistem perkebunan sawit yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial dan berkelanjutan secara lingkungan bagi masyarakat Pasaman Barat.

0 Komentar

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *