STIE Ganesha Kembangkan Model Inovatif Kelola Kebun Sawit Ramah Lingkungan di Sumatera Barat
PASAMAN BARAT – Dalam upaya menciptakan sistem pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, sekelompok peneliti dari kalangan akademisi melaksanakan riset lapangan intensif selama sepekan pada pertengahan Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan realisasi dari program hibah penelitian yang didanai oleh Kemdikbudristek RI tahun ini, dengan fokus mengintegrasikan kearifan budaya setempat ke dalam praktik pengelolaan kebun.
Riset tersebut dipimpin oleh Dr. Halim Tjiwidjaja, S.T., M.M., didukung oleh tiga peneliti lainnya yaitu Aep Saefullah, S.HI., M.M., dan Alifi Restu Putera. Tim melakukan pendekatan partisipatif dengan mewawancarai 20 pelaku utama sektor sawit, meliputi petani mandiri, petani plasma, pengelola koperasi, dan tokoh masyarakat. Instrument penelitian dirancang untuk memetakan penerapan standar pengelolaan kebun yang baik sekaligus mengidentifikasi nilai-nilai lokal yang masih berlaku dalam sistem pengelolaan perkebunan.
Analisis data mengungkap beberapa kondisi faktual di lapangan:
Literasi GMP Masih Terbatas: Mayoritas responden (12 dari 20 orang) menyatakan tidak familiar dengan konsep Good Management Practices (GMP). Pemahaman yang ada umumnya diperoleh secara mandiri melalui kanal digital maupun interaksi terbatas dengan penyuluh.
Implementasi Praktik Berkelanjutan Belum Merata: Hanya segelintir petani yang telah menerapkan prinsip pengelolaan tanah, air, dan pemupukan berimbang secara konsisten.
Kelembagaan Koperasi Memberikan Dampak Positif: Petani yang tergabung dalam kelembagaan koperasi (seperti KSU Niat Bersama) menunjukkan tingkat adopsi praktik berkelanjutan dan akses pemasaran yang lebih baik.
Nilai Lokal Menjadi Pilar Penting: Prinsip gotong royong dan pelarangan pembakaran lahan masih dipertahankan sebagai bentuk kearifan lokal yang sejalan dengan prinsip berkelanjutan.
Tantangan Multidimensi: Kelompok tani menghadapi persoalan kompleks mulai dari ketidakstabilan harga, kelangkaan pupuk bersubsidi, ketergantungan pada sistem ijon, hingga persoalan lingkungan seperti degradasi kualitas air dan kerusakan tanah.
Menurut Dr. Halim Tjiwidjaja, "Riset ini berupaya menjembatani antara pengetahuan akademis dengan kebijaksanaan lokal. Temuan kami akan menjadi dasar untuk menyusun model tata kelola yang kontekstual dan aplikatif, yang tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga menjaga keberlanjutan ekologis dan keadilan sosial."
Tahap selanjutnya melibatkan proses analisis data mendalam untuk menyusun model tata kelola terpadu yang memadukan prinsip ilmiah dengan kearifan lokal. Rekomendasi kebijakan strategis akan disampaikan kepada pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi sistem pengelolaan perkebunan sawit yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model referensi bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di berbagai wilayah di Indonesia.
0 Komentar